HIPNOTERAPI, FARHAT ABBAS dan Boderline Personality Disorder

HIPNOTERAPI, FARHAT ABBAS dan Boderline Personality Disorder

HIPNOTERAPI UNTUK MENYEMBUHKAN FARHAT ABBAS

Hallo teman-teman, akhir-akhir ini kita sering mendengar kabar yang tidak enak dari farhat abbas, dia sering menceloteh tak karuan. Dalam tinjaun psikologi ini disebut dengan boderline personality disorder.

Lalu masalah apakah itu?
merupakan gangguan psikologis yang terjadi diakibatkan
ketidaklabilan suasana hati si penderita di ikuti dengan serangan depresi, kecemasan,
atau kemarahan yang sangat frekuen dan kadang-kadang tidak masuk akal. Lebih
detailnya Gangguan kepribadian borderline merupakan gangguan kepribadian dalam
menjalin hubungan dengan orang lain, mengenal perasaan-perasaan sendiri, dan
kegagalan dalam mengontrol emosi dan perilaku yang disebabkannya. 

Masalah yang
paling menonjol pada penderita gangguan kepribadian ini adalah adanya dorongan
impuls bunuh diri atau perilaku-perilaku untuk mencelakakan diri sendiri.
Bentuk seperti ketidakstabilan mood, cara berpikir yang kurang jelas, ketidakstabilan
dalam mempertahankan hubungan interpersonal, gambaran diri, emosi dan perilaku
merupakan gangguan nyata pada gangguan keperibadian ini. Akibat yang paling besar
dari bentuk perilaku ini adalah dampaknya pada lingkungan sosial si penderita.

Gangguan kepribadian ini disebut sebagai gangguan kepribadian ambang (Borederline)
dikarenakan berada diantara perbatasan antara gangguan neourotik dan schizofrenia.
Gangguan ini biasa terjadi pada masa dewasa awal atau remaja dan kebanyakan terjadi
pada wanita.


2. Teori yang Menjelaskan “Borderline Personality Disorder”

Teori yang mampu menjelaskan tumbuhnya gangguan kepribadian Borderline
ini adalah Teori Psikoanalisa. Menurut pandangan psikoanalisa penderita gangguan
ini dikarenakan kurangnya kondisi relasi yang tercipta di masa kecilnya dengan
pengasuhnya. Tindakan pengasuh yang membuat penderita tergantung pada masa
awal dan kemudian pada saat mulai lepas dari pengasuh mengakibatkan si penderita
kurang mampu mempelajari pandangannya terhadap pengasuh dan orang lain.
Akibatnya si penderita kurang berkembang dalam memahami dirinya dan orang lain.
Proses Perkembangan yang salah inilah yang menurut para psikoanalisis
berpendapat bahwa gejala gangguan kepribadian borderline ini. 

Penderita yang
terhambat perkembangan terhadap pandangannya terhadap dirinya dan orang lain ini
menjadi tidak mampu dan ragu-ragu dalam mempersepsikan dirinya dan orang lain.
Dia bisa berpendapat semua yang ada pada dirnya salah atau benar, dan bahkan ragu
akan pandangannya tersebut.

3. Penyebab-Penyebab Timbulnya Gangguan “Borderline Pesonality Disorder”

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa teori psikoanalisa dalam
menjelaskan terjadinya gangguan kepribadian Borderline ini, sebagai akibat dari yang
di alami si penderita dalam kehidupannya di masa lalu. Untuk lebih jelas sebagai
berikut :

1) Kekerasan pada masa kanak-kanak, penolakan dan terpisah dengan orangtua
kandung
Banyak studi menunjukkan bahwa hubungan kekerasan pada anak, terutama
pelecehan dan kekerasan seksual akan menumbuhkan perkembangan kepribadian
anak di kemudian hari menjadi BPD. Penderita gangguan kepribadian borderline
mengalami kekerasan verbal, emosi, fisik dan seksual pada masa perkembangan
kanak-kanaknya. Pada anak-anak perempuan yang yang terpisah dari orangtua
kandung dan dipungut oleh orangtua asuh mempunyai resiko mengalami
kekerasan dan pelecehan seksual lebih besar dibandingkan anak laki, akan tetapi
antara keduanya memiliki potensi kekerasan lainnya. Keduanya mempunyai
hubungan keterdekatan kemunculan gangguan kepribadian pada fase
perkembangan selanjutnya.

2) Faktor Kegagalan Tugas Dalam Perkembangan
Faktor lain kemunculan gangguan kepribadian borderline tidak hanya disebabkan
oleh gangguan spektrum dari trauma saja, penelitian Kernberg menyebutkan
bahwa kemunculan BPD disebabkan oleh kegagalan tugas-tugas perkembangan
pada masa kanak-kanak. Kegagalan tersebut berupa kegagalan anak dalam
mengenal dan membedakan diri anak dengan orang lain yang selanjutnya
berkembang bentuk-bentuk psikosis pada anak.
Pendidikan orangtua di rumah juga ikut mempengaruhi terbentuknya BPD, seperti
interaksi negatif antara orangtua-anak, kurangnya empati, dan lebih besar kritikan
yang ditujukkan pada anak diabndingkan penghargaan.

3) Faktor genetik
Beberapa literatur menyebutkan bahwa perlakuan-perlakuan yang berhubungan
dengan BPD akan mempengaruhi pada gen yang nantinya akan mempengaruhi
pada kepribadian anak, akan tetapi faktor genetik ini masih diteliti lebih lanjut.
Pengaruh serotonin berhubungan dengan genetik diduga juga ikut berpengaruh

4) Ketidakseimbangan neurotransmiter
Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, norepinephrine dan
acetylcholine (berpengaruh pada jenis emosi dan mood); GABA, (stabilisator
perubahan mood), fungsi amygdala; ikut mempengaruhi perilaku-perilaku
penderita BPD dalam merespon stressor yang muncul. Perilaku impulsif dan
agresivitas disebabkan oleh ketidakseimbangan serotonin dan bagian wilayah
prefrontal kortek.

Pengobatan?
Bisa dengan melakukan Hipnoterapi / Terapi Hipnotis